cover-macapat

Macapat SMPN 2 Bojonegoro Part 1

smpn2bojonegoro : Nembang Macapat merupakan kegiatan rutin di sekolah SMPN 2 Bojonegoro mungkin banyak teman – teman yg penasaran dengan arti dari macapat ? artinya adalah  tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Sejarah dari Karya-karya kesusastraan klasik Jawa banyak yg di mulai dari masa Mataram Baru, pada umumnya ditulis menggunakan metrum macapat. Sebuah tulisan dalam bentuk prosa atau gancaran pada umumnya tidak dianggap sebagai hasil karya sastra namun hanya semacam ‘daftar isi’ saja. Ada 3 karya sastra Jawa yang ditulis dalam tembang macapat Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, dan Serat Kalatidha. 

Sedikit pengetahuan untuk teman-teman bahwa puisi tradisional Jawa atau tembang biasanya dibagi menjadi tiga kategori: 1. tembang cilik, 2. tembang tengahan dan 3. tembang gedhé. Macapat digolongkan kepada kategori tembang cilik dan juga tembang tengahan, sementara tembang gedhé berdasarkan kakawin atau puisi tradisional Jawa Kuna, namun dalam penggunaannya pada masa Mataram Baru, tidak diterapkan perbedaan antara suku kata panjang ataupun pendek. Di sisi lain tembang tengahan juga bisa merujuk kepada kidung, puisi tradisional dalam bahasa Jawa Pertengahan. 

Kita kembali ke macapat biasanya diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Tetapi ada beberapa orang memiliki perbedaan pendapat arti penafsiran ada pula selain arti di atas  ialah bahwa -pat merujuk kepada jumlah tanda diakritis (sandhangan) dalam aksara Jawa yang relevan dalam penembangan macapat.

Kemudian menurut Serat Mardawalagu , yang dikarang oleh Ranggawarsita, macapat merupakan singkatan dari frasa maca-pat-lagu yang artinya ialah “melagukan nada keempat”. Selain maca-pat-lagu, masih ada lagi maca-sa-lagu, maca-ro-lagu dan maca-tri-lagu. Konon maca-sa termasuk kategori tertua dan diciptakan oleh para Dewa dan diturunkan kepada pandita Walmiki dan diperbanyak oleh sang pujangga istana Yogiswara dari Kediri. Ternyata ini termasuk kategori yang sekarang disebut dengan nama tembang gedhé. Maca-ro termasuk tipe tembang gedhé di mana jumlah bait per pupuh bisa kurang dari empat sementara jumlah sukukata dalam setiap bait tidak selalu sama dan diciptakan oleh Yogiswara. Maca-tri atau kategori yang ketiga adalah tembang tengahan yang konon diciptakan oleh Resi Wiratmaka, pandita istana Janggala dan disempurnakan oleh Pangeran Panji Inokartapati dan saudaranya. Dan akhirnya,  tembang macapat atau tembang cilik diciptakan kembali oleh Sunan Bonang dan diturunkan kepada semua wali. 

Cukup sekian dulu ya teman – teman untuk intro dari Macapat berikutnya kita akan bahas kembali tentang macam-macam atau jenis – jenisnya.  Semoga dengan ini kita tambah ilmu baru dan bermanfaat.

Leave a Reply