Kang Yoto Mengajarkan Demokrasi Kepada Dunia

IMG_5156 IMG_5133

Sungguh saya merasa beruntung dapat mengikuti acara Global Forum tangal 11 sd 12 Februari 2014 di MIT Boston USA. Sebuah forum yang  disemangati oleh keinginan untuk membaca ulang perjalanan sejarah umat manusia dan bagaimana mewujudkan masa depan yang lebih baik. Mengapa kini manusia  mengalami krisis yang tidak pernah diinginkannya. Otto Scharmer, guru besar, dosen senior MIT, penulis buku Leading By Emerging Future yang kini banyak mengispirasi pemimpin dunia, salah seorang penggagas forum ini mengemukakan adanya krisis dalam bidang lingkungan hidup, dimana salah satunya konsumsi manusia yang melebih kemampuan produksi alam. Krisis sosial ekonomi yang ditandai pertumbuhan GDP tapi tidak disertai peningkatan kesejahteraan. Lalu krisis psikologis yang ditandai dengan tingginya angka bunuh diri yang meningkat. Otto mengatakan akar masalahnya adalah adanya keterbelahan dan tidak nyambungnya manusia dengan lingkungan alamnya, manusia dengan lingungan sosialnya, dan pribadi dengan dirinya. Sejarah telah dibangun dengan semangat ego.

         Untuk itulah diperlukan upaya sistematis bersama, sebuah upaya yang tidak dapat dilakukan dengan cara tambal sulam melainkan dengan perubahan mendasar mengubah ego sistem ke eco sistem. Kesadaran ini harus dilakukan dengan saling mendengar, menyatukan niat, membuka semua kemungkinan sinergi gerakan dengan semangat kebersamaan dan melakukan langkah kongkrit prototype dalam bidang masing masing atau bersinergi bersama, dalam prototype lingkungan hidup, sosial dan spiritualitas.

Dalam forum inilah saya merasa berbangga hati menjadi warga negara Indonesia. Suyoto, Bupati Bojonegoro, atau Kang Yoto, begitu dia dipanggil menjadi pembicara utama yang sangat menginsipirasi. Kang Yoto (KY) diminta berbicara dua sesi. Sesi pertama dihadapan seluruh peserta, 250an  orang dari berbagai dunia dan latar belakang yang hadir langsung dan ribuan lewat steeming,  KY diminta bicara tentang bagaimana mengelola pemerintahan yang demokratis. Sesi kedua, menjelaskan pengalamannya dalam pembangunan jalan paving yang berbasis masyarakat sebagai sebuah contoh program pembangunan yang memenuhi semangat eco sytem yang berdampak kebahagian bagi semua.

       Uraian  KY memperjelas dan meyakinkan seluruh peserta bahwa membangun ekonomi politik dengan semangat eco system itu nyata adanya dan bisa dilakukan. Saya menyaksikan bagaimana peserta dari berbagai negara itu mengapresiasi. Saya merasa Otto Scharmer sangat jeli membaca Bojonegoro, dan menjadikannya sebagai model dunia untuk perkembangan demokrasi, yang disebutnya demokrasi 4.0.

Apa yang menarik dari KY,  ada  empat hal yang saya catat:

Pertama, bagaimana meraih kekuasaan dengan cara murah. Masalah ini dipandang penting, mengingat biang kerok pembajakan demokrasi sebenarnya dimulai dari biaya demokrasi yang mahal, yang kemudian menyebabkan banyak politisi tersandera kepada penyumbangnya. Alih-alih bekerja untuk kesejahteraan semua, lebih baik fokus melayani kepentingan penyumbangnya. Fenomena ini terjadi di hampir seluruh dunia. Kang Yoto sendiri menjelaskan, kunci politik itu adalah kepercayaan. Bila seorang politisi dipercaya maka semakin murah biaya politiknya. Namun bila kepercayaan rakyat rendah maka akan semakin mahal biayanya. Kepercayaan dapat diperoleh dengan cara menyatu dengan rakyat, lewat mendengarkan langsung seluruh problem rakyat, merumuskan bersama rakyat agenda prioritas, dan menjaga integritas dan intensitas komunikasi langsung dengan rakyat.

Kedua: soal pengalaman KY mengelola birokrasi. KY menjelaskan pengalamannya ketika memenangkan pilkada melawan incumbent, dimana pendukungnya menganggap para birokrat sebagai musuh. Dalam hal ini KY memilih memaafkan semua birokrat yang tidak mendukungnya, kemudian merangkulnya untuk melayani rakyat, dengan budaya baru: pantang mengatakan bukan tanggung jawabnya, pantang mengatakan tidak ada uang, pantang mengeluh dan berusaha sekuat tenaga menjadi orang baik dan benar, tidak korup. Inilah yang kemudian melahirkan semangat eco system di kalangan birokrat.

Ketiga, bagaimana melaksanakan pola pemerintahan yang berbasis eco system. Untuk ini KY menjelaskan empat mekanisme:  menjaga hubungan langsung dengan rakyat lewat dialog, kunjungan lapangan (blusukan istilah sekarang), membuka akses dengan memberikan nomor telp semua pejabat termasuk KY sendiri kepada semua rakyat. Lewat cara inilah maka rakyat dapat mengemukakan langsung masalahnya, mengontrol langsung semua pelaksanaan pemerintahan dan mencari solusi bersama. Dengan cara ini antara pemerintah dan rakyat, dan kekuatan sosial politik lainnya terhindar dari kompetisi dan konflik radikal. Sebagai gantinya terbuka proses co creating dan dialog produktif untuk menyelesaikan masalah dan memujudkan mimpi bersama, yaitu kebagiaan berkelanjutan semua pihak.

Keempat, atas permintaan Otto Scharmer, KY diminta menjelaskan bagaimana melakukan transformasi spiritualitas untuk mendorong lahirnya kepribadiaan yang utuh dan saling nyambung dengan lingkungan sosial dan lingkungan alam. Spiritualitas harus menjadi basis ego system. Untuk inilah saya benar-benar terkejut. KY menemukan mekanisme self managemen lewat surat alfatehah. KY menguraikan alfatihah secara luar biasa. Dalam forum itulah saya mengerti universalitas ajaran Islam, surat alfatihah. Untuk ini ternyata KY telah membuat pelatihannya, yang  Otto Scarmer telah mengikuti langsung, KY juga menulis buku alfatihah codes yang saat ini bisa dibeli di toko buku,  dan bahkan senam alfatihah.

Uraian tentang ajaran Islam ini telah membukakan mata banyak peserta, untuk jauh lebih apresiatif melihat muslim dan Islam. MIT meninta KY  setelah penutupan wawancara khusus  untuk bahan kuliah mahasiswa MIT.

Di akhir sesi pertama, Otto Scharmer sempat bertanya kepada Kang Yoto, are you politician, educator or relegius leader? Kang Yoto menjawab: it is I am. Kepada saya Kang Yoto mengatakan untuk kontek Bojonegoro, seorang pemimpin itu rasanya tidak cukup dengan hanya menjadi politisi, tapi harus juga menjadi pendidik, pemberdaya, pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat. Itulah semangat eco system.

Tulisan ini lahir sebagai penghargaan seorang warga negara Indonesia kepada seorang anak negeri yang bukan hanya telah dan sedang berkarya, namun juga menginsipirasi dunia. KY, tokoh muda, yang anak desa dan anak Indonesia, mengajarkan demokrasi kepada dunia.

Bacalah komentar lewat Twitter berikut:

Richardwindows@ourfoodfuture: wow its not everyday I get inspires listening to US politician. Keep up the good work

Haveaniceday@T_indignadx @bensmith 1978 I wold like to think that Yoto’s mssg at#ego toeco is that hierarchy is outdated, even at the time of addressing issues

Bejaminsmith:@bensmith1978

Dose Kang Yoto show us that the core issue is not economic sytem but the polical at one

Julie Arts@artsofsensing

Kang Yoto, a brave politician from Indonesia, sharing his story at pesencing..

Adrianto Machribie, dirut Metro TV.

eff zone

Simple life is good

Leave a Reply